Setidaknya Kita Tidak Merusak Jakarta

July 25th, 2008 by baoek

Gadis itu menjulurkan kakinya di atas meja perpustakaan, sembari tangannya memegang alat pengontrol kanal TV. "Gue suka film ini," ucapnya tanpa melirik orang yang diajaknya bicara.

Kawan gadis itu mencoba melirik malas ke layar televisi. Terlihat adegan tokoh-tokoh kartun yang penuh warna. Tanpa ekspresi, si kawan tak melanjutkan perbincangan seputar film. "Jadi jalan?" tanyanya. "Iya, tapi aku disuruh rapat," jawab si gadis. "Oh, jadi gimana?" ujar si kawan berbalik tanya.

Si gadis memutuskan pergi dan meninggalkan rapat. Namun, keputusan yang diambilnya sepertinya tidak mudah. Sesaat setelah memutuskan itu, si gadis berjalan sedikit gontai, tiba-tiba ia mengendap-endap di setiap melewati pintu lift. "Ada kamera pengintai," ujarnya lirih.

Ia meneruskan gaya jalan-jalannya bak gaya anak kecil bermain petak umpet. "Kamu nggak main-main kan," tanya kawannya. Gadis itu tak menjawab. Ia hanya membalas dengan pandangan seraya mengajak untuk mengambil air wudhu. "Salat maghrib dulu," perintahnya.

Selepas salat, kawan gadis itu langsung menimpali, "Kalau izin tidak ikut rapat boleh kan? Ngomong baik-baik lah," celotehnya. Si gadis tak menjawabnya. "Kita jalan kemana," tandas si gadis bertanya balik.

Kawannya menyadari pertanyaanya terlalu berat dijawab. "Terserah kamu saja."

Akhirnya keduanya keluar dari gedung tempat si gadis bekerja. Mereka berjalan malas sembari bertutur tentang apa saja. Tak lama, perbincangan mengerucut tentang perilaku gadis sewaktu di gedung tadi.

"Aku tidak bebas, tau nggak selama bekerja di gedung itu gue baru sekali berjalan di trotoar ini," ucap si gadis dengan lirih. Kawannya tidak menimpali, di samping bingung atas ungkapan itu, ia hanya mengisyaratkan teman wanitanya melanjutkan kisahnya yang seolah tertahan.

"Selama ini gue selalu dipilihin," ungkap si gadis. "Selalau saja, gue bingung kalau disuruh memilih sendiri," lanjutnya dengan tangan yang tak henti bergerak seolah ingin menggambarkan kegeramannya.

"Kau terlalu banyak nilai,"balas sang kawan. Si gadis terdiam. Tiba-tiba sang kawan bertanya,"Tau batman nggak." Gadis itu langsung berseloroh, "Nonton yuk, di semanggi ada, yuk, yuk, kita ke sana sekarang, keburu telat," ajak si gadis tiba-tiba.

Kawannya bertahan dengan tenang,"Nggak ah, besok-besok aja, aku nggak ada niat," balasnya. Gadis itu menurut saja. "Kamu mau makan atau nonton," ucap si kawan melanjutkan. "Makan aja deh, gue laper dari tadi," jawabnya sembari tertawa kecil menyesali ajakannya.

"Kita naik apa neh," tanya si gadis. "Naik angkot aja, deket sini kok, di cikini," ujar sang kawan. Raut muka si gadis berubah seolah menggambarkan kekurangsetujuannya menaiki angkot. Kawannya pun terpancing untuk menimpali kembali. "Ini bukan masalah punya atau tidak punya uang, ini masalah nilai," tandasnya. Gadis itu pun tersenyum renyah. "Ini yang tidak aku dapatkan selama ini."

Perbincangan mereka berlanjut di meja makan sebuah restoran kecil di daerah Cikini Menteng. "Makan apa," tanya si gadis. "Terserah kamu," jawab kawannya. "Aku bingung," gadis itu menimpali. "Cobalah kamu memilih mulai dari sekarang, meski ini hanya hal yang kecil," balas sang kawan. Gadis itu kembali menuruti kawannya tanpa membalas sepatah kata pun.

"Makanan di sini enak," kata si gadis sembari melahap daging empal dan seonggok nasil timbel yang mulai habis. "Kalau kurang nggak usah nambah lagi, nanti kita makan lagi di luar sana," perintah sang kawan. Belum satu kata pun yang meluncur dari mulut si gadis, kawannya langsung menimpali, "Cobalah hasratmu dikekang." Gadis itu kembali terdiam, kini matanya terlihat berkaca.

Keduanya sepakat mengakhiri perbincangan di rumah makan itu. "Aku yang bayar, ada sedikit rezeki," ujar si gadis. Kawannya menganggukan kepala. "Oke, entar aku yang giliran traktir kamu di Jogja nanti,"  jawabnya tak mau kalah.

Tak lama berbincang, si gadis mengangkat telponnya, rupanya nama seorang laki-laki tengah memanggilnya sedari tadi. Keduanya terlihat perbincangan serius. Si gadis terlihat tak banyak bicara. Kawan yang duduk di sebelahnya acuh. Selepas telepon genggam ditutup, si kawan langsung bertanya. "Siapa." Si gadis itu tanpa memberi jeda waktu langsung berkata,"Ada deh," ujarnya dengan senyum kecilnya. Ucapan si gadis itu membuat kawannya segan melanjutkan perbincangan seputar si penelepon.

Namun, tiba-tiba meluncur dari mulut si gadis sebuah celotehan tak jelas. "Yah, pasti gue dimarahin besok," katanya. Kawannya terbengong, bingung. "Emang siapa, kok kamu mau aja dimarahin," tanyanya. "Ga tau deh, kita jalan lagi yuk," ajaknya.

Kawannya menuruti permintaan si gadis, kini ia mengajak ke kantor kerjanya yang tak jauh dari lokasi rumah makan. Si gadis tidak menampik ajakan kawannya. Belum sampai di pinggi jalan, sang gadis sudah berkata. "Naik apa." Pertanyaan itu dianggap kawannya sebagai pertanda teman wanitanya tak mau naik angkot. "Oke kita naik taksi saja."  Akhirnya keduanya meluncur dengan sebuah taksi.

Di kantor, si gadis melanjutkan ceritanya. Ceritanyatak berubah. Ia hanya ingin menegaskan bahwa dirinya tengah labil. "Sepertinya gue mengalami detoksitas," katanya sambil tangannya menunjuk batok kepalanya. Si gadis bergumam apa saja. Mulai dari suasana pekerjaan di kantornya, hingga cerita penolakannya sewaktu menjadi pemenang mahasiswa berprestasi.  "Yang gue cari bukan recehan," gumamnya.

Si gadis merasa apa yang ia rasa dan temui jauh dari apa yang ia bayakan sebelumnya. "Bingung gue, kok sepertinya gue banyak masalah," ucapnya dengan pandangan kosong. Kawannya yang mendengar dengan khitmat hanya berseloroh,"Kadang masalah itu ada pada diri kita sendiri yang teralu menginginkan banyak hal."

"Cobalah berpikir sederhana," kata si kawan. "Orang seperti kita, terlalu tinggi menggambar kehidupan, padahal belum tentu kita melakukan hal kecil yang bermanfaat untuk orang di sekitar kita," lanjutnya.

Si gadis masih terdiam. Sepertinya ia masih menahan sesuatu. "Ceritakanlah apa yang kau pendam," ujar teman si gadis menantang halus. "Aku bukan punya jawabannya, hanya saja kau perlu didengar."

Sang gadis tersenyum kecut. Tak lama ia merasa haus. "Minum yuk," katanya. Kawannya tak menolak, diajaknya temannya itu ke warung depan kantor.

Di warung itu, kawan si gadis mulai berceramah. "Kamu terlalu banyak mengikuti gaya hidup orang banyak, dan kamu larut. Cobalah bersikap lain, bukan untuk memperbaiki, tapi setidaknya kita tidak merusak Jakarta meski ia tak pernah baik kepada orang seperti kita," tuturnya berhati-hati. Si gadis sepertinya tersihir, dan diam.

"Cobalah kau lanjutkan dengan meminta petunjuk, kamu masih seorang muslimah taat, kamu masih tak lupa dengan tahajud dan puasa. Jangan terlalu mengagungkan pikiranmu. Lembutkan hatimu," celoteh sang kawan. Si gadis yang terdiam sedari tadi tak kuat membendung matanya yang terus menguncup. Lantas ia tertidur.

"Bangun, pulang yuk, aku antar ke kosmu," ujar sang kawan. Si gadis terbangun, ia tak menampik diajak pulang. Kawannya memilihnya mengantar naik taksi. Di dalam taksi, si gadis seperti bersemangat kembali melanjutkan obrolan. "Kamu sepertinya tidak punya masalah," tanyanya. Kawannya tersenyum sinis sembari memandang ke arah luar. "Kamu tidak tahu aja, setiap orang punya masalah," lirihnya.

"Hanya saja, kamu yang sepertinya harus banyak didengarkan," lanjutnya. "Iya deh, kapan-kapan," jawab si gadis. "Terima kasih ya, setidaknya bebanku berkurang dengan obrolan ini," gumamnya menghibur.

Taksi yang ditumpanginya terus melaju lalu berhenti di balik gedung-gedung tinggi menjulang. Suasana sepi, hanya beberapa pemuda terlihat bergurau. Si gadis keluar dari Taksi, ia menunjuk salah satu rumah di suatu lorong yang merupakan tempat pondokannya. "Terimakasih, aku pasti melanjutkan hari ku besok, tenang saja," ujarnya seraya berjanji. Kawannya hanya tersenyum, ia lalu menutup pintu taksi melanjutkan perjalanan.

Satu Malam Di Batavia

Cantik dan Ide Kecantikan

July 2nd, 2008 by baoek

Cinta adalah ide. Karena itu ia dapat dibangun. Laki-laki mencintai perempuan banyak dipengaruhi perihal kecantikan, lebih luas lagi adalah ide tentang kecantikan. ketika seorang laki-laki mengatakan perempuan x itu cantik, itu karena ide kecantikan yang termanifestasikan dalam perempuan x itu telah dimiliki dan ada pada laki-laki tersebut, sehingga ia dapat mengatakan perempuan itu cantik dengan seketika.

Tatkala laki-laki itu menemukan perempuan lain dan ia mengatakan ia tidak cantik, karena laki-laki itu belum menemukan ide kecantikan lainnya yang ada dalam perempuan tersebut.
bahwasanya semua perempuan adalah cantik.

Sedangkan ide-ide kecantikan seluruhnya belum semuanya dimiliki laki-laki. Karena itu ia dapat dibangun dengan proses dan waktu, tapi ide itu tak kan pernah selesai karena ide kecantikan itu adalah fatamorgana, terlihat membatasi tapi secara hakiki tidak. Maka wajar, jika kita seharusnya mencintai seorang perempuan bukan karena kesempuranaan yang kita sukai dari dia, karena itu adalah kepicikan laki-laki.

Jogja
31 oktober 2006
06.07 wib

Perjuangan Seorang Wali Murid Menuntut Transparansi

July 2nd, 2008 by baoek

Hampir satu setengah tahun yang lalu Alex Yusfar, 49 tahun, kaget melihat puterinya Arky Kurniati Alexandra menangis sepulang sekolah. Tak seperti biasanya Arky yang murid kelas dua belas Sekolah Menengah Umum Negeri 68 Jakarta, harus pulang dengan kepala tertunduk lesu. Keceriaan hilang dari wajah manis Arky yang telah menginjak usia 17 tahun. Sedih dan sakit hati mendominasi perasaan Arky.

Arky tak terima dengan pemecatannya yang tiba-tiba. Arky dipecat dari bendahara karya cipta seni 68, sebuah acara pentas seni, yang baru saja dijabatnya sejak dua bulan sebelum pemecatannya, lantaran perbuatan sang Ayah. Alex Yusfar dituduh sebagai tukang fitnah. Tuduhan itu meluncur dari salah satu pihak manajemen sekolah SMAN 68 lantaran Alex telah puluhan kali mempertanyakan laporan keuangan salah satu sekolah favorit itu.

Sejak dua tahun lalu Alex beserta beberapa orang tua wali murid mempertanyakan laporan keuangan sekolah anaknya. “Laporan itu seharusnya dibuat setiap tiga bulan sekali atau paling tidak satu semester sekali,” kata Alex. Namun sampai satu semester sejak putrinya mengenyam bangku SMA, laporan keuangan sekolah yang terletak di jalan salemba raya itu tak kunjung dibuat.

Alex yang menjadi wali murid sejak periode 2005-2006 hanya menuntut haknya. Ia mempertanyakan penggunaan dana SMAN 68 yang telah memungut uang sebesar enam juta rupiah di awal masuk sekolah, dua ratus lima puluh ribu rupiah per anak setiap bulan, delapan puluh ribu rupiah per anak per tahun untuk uang OSIS, dan seratus rupiah per anak per tahun untuk biaya Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Dengan jumlah 300 siswa per angkatan, “Itu jumlah yang besar, mencapai miliaran rupiah per tahun,” tambah Alex. “Sekolah ini juga menerima bantuan dana dari APBD dan APBN,” tambah Agus.

Akhirnya, Alex bersama komite sekolah SMAN 68 melayangkan surat ke manajemen sekolah, mempertanyakan perihal keuangan. Protes Alex ditanggapi, laporan keuangan dibuat, namun Alex yang mewakili beberapa wali murid lainnya melihat kejanggalan. Banyak pembayaran yang seharusnya diambilkan dari APBN dan APBD ternyata diambilkan dari dana swadaya sekolah. “Ini kan melanggar hukum,” kata Alex sambil menunjukan surat keputusan pemerintah yang mengatur biaya apa saja yang menjadi kewajiban APBN atau APBD. “Masak untuk bayar listrik, telepon, air serta gaji guru dan karyawan, diambilkan dari uang sumbangan wali murid. Itu kan dibayar negara,” ujar Alex.

Alex kembali protes, namun kali ini protesnya tidak ditanggapi. Alex tak menyerah, laki-laki yang menggeluti bisnis antar jemput karyawan restauran ini mengadu ke beberapa lembaga yang ia anggap akan membantunya. Ia surati Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta, Gubernur DKI, Menteri Pendidikan Nasional, sampai kepada Presiden. Namun, semuanya gagal, surat Alex tak ditanggapi.

Alex tak menyerah. Bungkamnya pihak manajemen sekolah, memaksa Alex untuk memilih jalur hukum, suatu cara yang ia sendiri kurang menyenanginya, karena ia yakin hal ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan damai. “Namun, omongan saya dianggap anjing menggonggong,” ujar Alex dengan bibir gemetar.

Agustus 2006 atau setengah tahun setelah protes awalnya, Alex resmi mengajukan permohonan penyidikan kepada Kejaksaan Tinggi Jakarta, namun akhir agustus pada tahun yang sama pengaduan Alex dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Alex benar, Kejari merespon, pihak manajemen sekolah dipanggil Kejari. Hasilnya pihak manajemen sekolah menyerahkan laporan keuangannya ke Kejari.

Namun, laporan itu masih janggal, laporan itu tidak memperinci satu per satu pemasukan dan pengeluaran seperti layaknya sebuah laporan keuangan. “Yang tertera hanya garis besarnya saja,” ujar Alex sambil menunjukan salinan laporan keuangan yang ia dapat dari Kejari Jakarta Pusat.

Belum sempat memprotes, pihak manajemen sekolah mengganti pengurus komite sekolah yang selama ini mendukung penuh perjuangan Alex. Alex heran, pergantian pengurus komite di sekolah anaknya dilakukan di luar prosedur yang berlaku. Alex yang juga pengurus komite sekolah di sebuah sekolah di Cikini, tahu betul aturan pembentukan komite sekolah.

September 2006 Alex dikagetkan oleh satu surat dari sekolah perihal komite sekolah. Surat itu memberitahukan bahwa hasil rapat wali murid ditetapkan saudara MD (Masdianto) sebagai ketua komite sekolah. “Kami tidak pernah diundang untuk pembentukan itu,” kata Alex sambil mengerutkan dahinya. Bahkan Alex mempertanyakan posisi MD yang seorang perwira menengah di Markas Besar Kepolisian RI, karena ia baru satu bulan menjadi wali murid.

Namun, seperti yang sudah-sudah, apa yang dipertanyakan Alex, dianggap angin lalu. Penggemar kucing ini tetap tak menyerah. Pasca pengurus komite sekolah diganti, Alex seperti berjuang sendirian. Kini yang ia hadapi bukan hanya manajemen sekolah, tetapi juga komite sekolah.

Alex tetap bertahan dengan sikap kritisnya. Semangatnya didorong oleh rasa kasihan kepada wali murid SMAN 68 yang tidak semuanya tergolong mampu. “Mereka ada yang <I>ngutang<I> untuk bayar uang bulanan,” kata Alex. Selama ia menunggu jawaban dari pihak manajemen sekolah dan juga komite sekolah yang baru, Alex mengumpulkan data seperti laporan keuangan yang pernah dikeluarkan, surat pungutan biaya oleh sekolah kepada wali murid, dan beberapa petikan surat keputusan yang menguatkan protesnya.

Alex melakukan itu semua karena didorong rasa tanggung jawab bahwa kebenaran bukan harus menang melainkan harus diperjuangkan. “Saya tidak mencari menang atau kalah atau ingin menjebloskan seseorang ke penjara. Saya hanya ingin pihak manajemen mengakui kalau ini salah, kalau sudah mengaku, mari kita perbaiki bersama,” kata Alex.

Sarjana arsitektur ini mengaku bahwa cara-cara kekeluargaan pernah ia usahakan, bahkan bertemu dan bertatap muka dengan ketua komite sekolah pernah ia lakukan. Namun, hasilnya tetap nihil. Kejanggalan dalam manajemen keuangan masih terasakan.

Kasus ini seolah mendiam. Pihak sekolah yang sebelumnya pasif tiba-tiba bereaksi. Namun reaksi itu bukan hal yang baik menurut Alex. Pada suatu hari di bulan Oktober setahun yang lalu Arky, putrinya dipecat dari bendahara suatu kepanitian pentas seni dengan alasan akan dikeluarkan dari sekolah.

Alex paham dengan nasib yang menimpa anak tunggalnya. “Itu intimidasi,” kata Alex dengan wajah geram. Namun, Alex yang pernah mengenyam pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ini tak patah arang. Ia tetap <I>kekeh<I> dengan protesnya, yang menginginkan transparansi penggunaan dana sekolah oleh pihak Komite Sekolah dan Manajemen Sekolah SMAN 68.

Alex baru menyadari bahwa sang ketua komite sekolah adalah seorang perwira menengah polisi. Dari sinilah, Alex berinisiatif mengadukan ke Markas Besar Kepolisian RI divisi Profesi dan Pengamanan. Ia mengadukan bahwa seorang polisi aktif dilarang memegang jabatan ganda, “Apalagi mengurusi uang miliaran rupiah,” tandas Alex.

Sebulan setelah pemecatan putrinya, Alex mengirimkan surat resmi yang dialamatkan langsung kepada Kepala Kepolisian RI. Setelah itu Alex tak tahu menahu apakah suratnya ditanggapi atau tidak. Namun, bulan Februari 2008 laporan keuangan terbit kembali. Kali ini dengan edisi lebih lengkap dari sebelumnya. Komite Sekolah mengeluarkan tiga laporan keuangan mulai tahun 2005 sampai 2008. Sayang, laporan tersebut terkesan dipaksakan. “Mana ada dalam laporan keuangan saldonya nol, ini kan aneh,” kata Alex dengan nada tinggi.

Alex bertambah yakin bahwa penyelewengan dana di sekolah putrinya benar terjadi. Sejak dua tahun ia melayangkan protesnya, Alex telah mengumpulkan empat laporan keuangan yang berbeda. “Lho, yang dilaporkan sama, tapi isinya berbeda. Yang benar yang mana,” kata Alex dengan nada heran. Namun, belum lama ia memendam kegeramannya, Alex dikejutkan oleh pemanggilan Polda Metro Jaya. Ternyata Alex dilaporkan telah melakukan pencemaran nama baik kepada kepala komite sekolah.

Ini intimidasi baru,” ujarnya dengan nada sinis. Meski telah mendapat ancaman, Alex tetap meneruskan aksi protesnya. Kali ini Badan Reserse Kriminal Mabes Polri yang jadi tumpuannya. “Saya akan terus perjuangkan, meski putri saya telah lulus nanti.”

Bertemu Goenawan Mohamad

July 2nd, 2008 by baoek

Meski telah tergabung dalam keluarga besar TEMPO, tidak mudah berjumpa dengan Goenawan Mohamad, salah satu sesepuh. Pada satu malam ia datang di kantor koran. Mengenakan kemeja putih yang hampir mirip baju taqwanya para Laskar FPI, dipadukan dengan celana berbahan jeans warna coklat, serta sepatu semi kantoran, Goenawan memberi wejangan kepada seluruh karyawan Tempo.

Malam itu cukup meriah dari hari biasanya. Sang Maestro sengaja datang untuk merayakan 14 tahun pembredelan Majalah Tempo oleh Soeharto, lebih tepatnya Menteri Penerangan, Harmoko.

Dalam wejangannya, Goenawan menceritakan ihwal pakaian yang ia kenakan. “Ini mirip sewaktu Mahkamah Agung mengetuk palu memutuskan kekalahan Tempo menolak pembredelan,” katanya. Ceritapun mengalir dengan renyah, seolah-olah ia tengah menuliskan catatan pinggiran.

Goenawan berdiri, sesekali terlihat ia gemetaran. Ia tengah bercerita dengan satu tema, kebebasan. Menurutnya, kebebasan bukan hak namun kewajiban bagi Indonesia. Perjalanan mengantarkan kebebasan telah mengajarkan Tempo banyak hal. Bukan sekedar ilmu-ilmu jurnalistik. Tapi bagaimana menghadapi tekanan, premanisme, baik negara maupun masyarakat sipil.

Pembredelan, katanya, bukan satu peristiwa yang mematikan Tempo. “Justru itulah awal perlawanan,” ujarnya. Negara dengan rezimnya menjadi lawan. Semangat kebebasan pers menginspirasi Tempo menggulirkan protes.

Goenawan memuji aksi Bambang Harymurti yang memilih jalur peradilan menuntut adil. “Itu baru pertama kali di Indonesia,” katanya. Begitulah, seluruh awak Tempo berperang dengan gayanya masing-masing.

Goenawan pun tak lupa berterima kasih kepada gerakan mahasiswa di tahun 1998. “Rezim runtuh, Tempo hidup kembali,” katanya. Reformasi, menjadi tantangan kembali, sekali lagi bukan kemenangan, tetapi perlawanan masih terus berlanjut.

Media cetak yang dikenal dengan slogan enak dibaca dan perlu ini kembali bertemu lawannya. Pengusaha yang terkenal, Tomy Winata, menjadi satu dari sekian pengusaha yang panas telinganya akibat pemberitaan Tempo. Sekali lagi, Tempo punya pengalaman dengan lawan-lawannya.

Waktu pun terus memutar, hingga memberi Tempo pengalaman bagaimana bertahan dengan segala pernik hidup. Kini setelah melewati episode melawan negara dan Tomy Winata, ada Munarman, dengan segala laskarnya. Tempo diancam kembali.

Sekali lagi, Tempo punya pengalaman yang (mungkin) jauh lebih berat. “Jangan takut,” kata Goenawan. “Paling-paling mati,” tandasnya disambut tawa awak Tempo. “Dan memang kita pasti mati.”

Velbak

21 Juni 2008, 07.00 pm

Negara

June 6th, 2008 by baoek

Negara, awalnya adalah suku kata. Setidaknya yang aku kenal di saat menginjak  bangku sekolah dasar. Negara yang aku kenal, saat itu, menuntun pikiranku kepada sebuah mata pelajaran bernama Pendidikan Moral Pancasila. Menjelang kelulusanku dari sekolah dasar, aku dikenalkan dengan arti negara lainnya. Aku kenal negara melalui mata pelajaran lainnya yaitu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.

Alhasil, enam tahun setelah menempuh pendidikan formal aku mendefinisikan negara dengan Pancasila dan Sejarah.  Tiga tahun di sekolah menengah pertama aku mengenal  negara dengan  sebutannya yang lain. Kali ini aku menemukannya dalam arti yang susah aku mengejanya, Geografi, meski Pancasila dan Sejarah masih terngiang bahwa dua kata itu masih berada dalam diagram ven negara.

Seolah tak mau kalah denga pendidikan formal sebelumnya, sekolah menengah atas, memperkenalkanku pula dengan negara. Seperti yang sudah-sudah, negara terdefiniskan baru lagi. Kali ini lebih kompleks. Ada ekonomi dan sosiologi. Tidak cukup di dua kata tersebut, di luar gedung kampus SMU-ku aku  juga mengenal kata politik. Satu kata yang aku tahu lebih banyak pertama kali dari ayahku.

Tiga tahun terakhir inilah aku merasa benar-benar hidup. Ya, terasa hidup karena aku tidak sekedar tertekan oleh negara yang selama ini menamakan dirinya sebagai Pancasila, Sejarah, dan Geografi. Diam-diam aku memulai mendefinisikan negara atas kehendakku sendiri.

Negara yang terkurung dalam teks-teks buku wajib anak sekolah, mulai aku giring keluar. Negara mulai terdefinisikan di dalam masjid, di bacaan buku-buku tidak wajib, serta di obrolan-obrolanku dengan teman sejawat maupun seniorku yang berstatus mahasiswa.

Pancasila, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan politik tekah membimbingku menuju satu kata yang aku suka, keadilan. Tidak terhenti pada keadilan, aku mulai menemukan metamorfosa lainnya. Kebijaksanaan, kewibawaan, kemakmuran, sejahtera, dan aman adalah deretan kata-kata yang aku temukan setelah aku melalang buana dalam status mahasiswa. Ada  satu kata lagi yang mengikuti negara dalam pikiranku, ideologi. Ya, kata ini mampu menyihirku sehingga bertambah semangat mendefinisikan negara.

Akhirnya, negara tersimpulkan-meski tanpa kemutalakan- dari kata-kata yang aku temui saat SD, SMP, dan SMU. Negara adalah sejarah. Dengan sejarah kita dapat menelusuri siapa nenek moyang kita sebenarnya. Oleh karena, belajar sejarah akan dapat melahirkan sikap dalam hidup, yang mungkin saja tersingkat-dalam pendidikan formal- dengan Pancasila.

Selebihnya dari itu adalah substansi sejarah  dan sikap. Yaitu ekonomi yang tercermin lewat makmur, sejahtera, dan adil. Itu semua terwujud kalau kita memahami alam kita yang tersari dalam geografi, kalau kita memahami  masyarakat kita  yan tersari  dalam sosiologi. Dari geografi dan sosiologi kita dapat bersikap seperti apakah ekonomi harus dipahat. Itulah negara, yang bagiku wibawa ada di dalamnya, bijaksana terpatri di antaranya. Negaraku adalah keluargaku, saudaraku, dan aku sendiri.

Detik ini, dua puluh lima tahun waktu yang telah kulewati. Negara telah terdefinisikan puluhan kali, ada yang tanpa ataupun dengan ralat. Bukan ralat menjadi penting, tapi ada satu kesimpulan yang tampak yaitu kebingungan.

Kebingungan itu bukan karena banyak sekali sudut untuk mendefinisikan negara. Tetapi kenyataan yang aku temui membuatku bingung apa itu negara.

Negara saat ini tampil dengan segala hal yang membuatku bingung. Wibawa, bijaksana, adil, makmur, sejahtera, aman, dan aahh aku tak mampu lagi menulis kata-kata manis itu. Negaraku terlalu cuek dengan itu, aku sendiri malu apakah aku yang terlalu bodoh sehingga tak mampu mengikuti definisi terbaru dari negara.

Aku malu jangan-jangan definisku tentang negara adalah definisi usang yang konservatif, yang tak laku lagi dalam teks-teks buku wajib sekolah. Definisiku terlalu munafik untuk zaman milenium ini.

Yang aku pikirkan, aku bercerai saja dengan negara. Biarlah negara berjalan sendiri. Terserah kau, mau kau apakan aku ini, aku tak akan membalasmu. Aku hanya ingin hidup dan bertahan hidup. Aku tak mau bergantung padamu. Silahkan kau mau apa saja, aku tak menghalangimu.

Kau tendang aku, silahkan. Kau banting aku, silahkan. Kau jual aku, silahkan. Kau adu aku dengan teman dan saudaraku, silahkan. Kau tipu aku, silahkan. Apapun yang kau lakukan, silahkan, sampai kau puas, sampai kau benar-benar bosan dan jenuh dengan apa yang kau lakukan.

Tapi aku tetap berdoa untukmu