Setidaknya Kita Tidak Merusak Jakarta
July 25th, 2008 by baoekGadis itu menjulurkan kakinya di atas meja perpustakaan, sembari tangannya memegang alat pengontrol kanal TV. "Gue suka film ini," ucapnya tanpa melirik orang yang diajaknya bicara.
Kawan gadis itu mencoba melirik malas ke layar televisi. Terlihat adegan tokoh-tokoh kartun yang penuh warna. Tanpa ekspresi, si kawan tak melanjutkan perbincangan seputar film. "Jadi jalan?" tanyanya. "Iya, tapi aku disuruh rapat," jawab si gadis. "Oh, jadi gimana?" ujar si kawan berbalik tanya.
Si gadis memutuskan pergi dan meninggalkan rapat. Namun, keputusan yang diambilnya sepertinya tidak mudah. Sesaat setelah memutuskan itu, si gadis berjalan sedikit gontai, tiba-tiba ia mengendap-endap di setiap melewati pintu lift. "Ada kamera pengintai," ujarnya lirih.
Ia meneruskan gaya jalan-jalannya bak gaya anak kecil bermain petak umpet. "Kamu nggak main-main kan," tanya kawannya. Gadis itu tak menjawab. Ia hanya membalas dengan pandangan seraya mengajak untuk mengambil air wudhu. "Salat maghrib dulu," perintahnya.
Selepas salat, kawan gadis itu langsung menimpali, "Kalau izin tidak ikut rapat boleh kan? Ngomong baik-baik lah," celotehnya. Si gadis tak menjawabnya. "Kita jalan kemana," tandas si gadis bertanya balik.
Kawannya menyadari pertanyaanya terlalu berat dijawab. "Terserah kamu saja."
Akhirnya keduanya keluar dari gedung tempat si gadis bekerja. Mereka berjalan malas sembari bertutur tentang apa saja. Tak lama, perbincangan mengerucut tentang perilaku gadis sewaktu di gedung tadi.
"Aku tidak bebas, tau nggak selama bekerja di gedung itu gue baru sekali berjalan di trotoar ini," ucap si gadis dengan lirih. Kawannya tidak menimpali, di samping bingung atas ungkapan itu, ia hanya mengisyaratkan teman wanitanya melanjutkan kisahnya yang seolah tertahan.
"Selama ini gue selalu dipilihin," ungkap si gadis. "Selalau saja, gue bingung kalau disuruh memilih sendiri," lanjutnya dengan tangan yang tak henti bergerak seolah ingin menggambarkan kegeramannya.
"Kau terlalu banyak nilai,"balas sang kawan. Si gadis terdiam. Tiba-tiba sang kawan bertanya,"Tau batman nggak." Gadis itu langsung berseloroh, "Nonton yuk, di semanggi ada, yuk, yuk, kita ke sana sekarang, keburu telat," ajak si gadis tiba-tiba.
Kawannya bertahan dengan tenang,"Nggak ah, besok-besok aja, aku nggak ada niat," balasnya. Gadis itu menurut saja. "Kamu mau makan atau nonton," ucap si kawan melanjutkan. "Makan aja deh, gue laper dari tadi," jawabnya sembari tertawa kecil menyesali ajakannya.
"Kita naik apa neh," tanya si gadis. "Naik angkot aja, deket sini kok, di cikini," ujar sang kawan. Raut muka si gadis berubah seolah menggambarkan kekurangsetujuannya menaiki angkot. Kawannya pun terpancing untuk menimpali kembali. "Ini bukan masalah punya atau tidak punya uang, ini masalah nilai," tandasnya. Gadis itu pun tersenyum renyah. "Ini yang tidak aku dapatkan selama ini."
Perbincangan mereka berlanjut di meja makan sebuah restoran kecil di daerah Cikini Menteng. "Makan apa," tanya si gadis. "Terserah kamu," jawab kawannya. "Aku bingung," gadis itu menimpali. "Cobalah kamu memilih mulai dari sekarang, meski ini hanya hal yang kecil," balas sang kawan. Gadis itu kembali menuruti kawannya tanpa membalas sepatah kata pun.
"Makanan di sini enak," kata si gadis sembari melahap daging empal dan seonggok nasil timbel yang mulai habis. "Kalau kurang nggak usah nambah lagi, nanti kita makan lagi di luar sana," perintah sang kawan. Belum satu kata pun yang meluncur dari mulut si gadis, kawannya langsung menimpali, "Cobalah hasratmu dikekang." Gadis itu kembali terdiam, kini matanya terlihat berkaca.
Keduanya sepakat mengakhiri perbincangan di rumah makan itu. "Aku yang bayar, ada sedikit rezeki," ujar si gadis. Kawannya menganggukan kepala. "Oke, entar aku yang giliran traktir kamu di Jogja nanti," jawabnya tak mau kalah.
Tak lama berbincang, si gadis mengangkat telponnya, rupanya nama seorang laki-laki tengah memanggilnya sedari tadi. Keduanya terlihat perbincangan serius. Si gadis terlihat tak banyak bicara. Kawan yang duduk di sebelahnya acuh. Selepas telepon genggam ditutup, si kawan langsung bertanya. "Siapa." Si gadis itu tanpa memberi jeda waktu langsung berkata,"Ada deh," ujarnya dengan senyum kecilnya. Ucapan si gadis itu membuat kawannya segan melanjutkan perbincangan seputar si penelepon.
Namun, tiba-tiba meluncur dari mulut si gadis sebuah celotehan tak jelas. "Yah, pasti gue dimarahin besok," katanya. Kawannya terbengong, bingung. "Emang siapa, kok kamu mau aja dimarahin," tanyanya. "Ga tau deh, kita jalan lagi yuk," ajaknya.
Kawannya menuruti permintaan si gadis, kini ia mengajak ke kantor kerjanya yang tak jauh dari lokasi rumah makan. Si gadis tidak menampik ajakan kawannya. Belum sampai di pinggi jalan, sang gadis sudah berkata. "Naik apa." Pertanyaan itu dianggap kawannya sebagai pertanda teman wanitanya tak mau naik angkot. "Oke kita naik taksi saja." Akhirnya keduanya meluncur dengan sebuah taksi.
Di kantor, si gadis melanjutkan ceritanya. Ceritanyatak berubah. Ia hanya ingin menegaskan bahwa dirinya tengah labil. "Sepertinya gue mengalami detoksitas," katanya sambil tangannya menunjuk batok kepalanya. Si gadis bergumam apa saja. Mulai dari suasana pekerjaan di kantornya, hingga cerita penolakannya sewaktu menjadi pemenang mahasiswa berprestasi. "Yang gue cari bukan recehan," gumamnya.
Si gadis merasa apa yang ia rasa dan temui jauh dari apa yang ia bayakan sebelumnya. "Bingung gue, kok sepertinya gue banyak masalah," ucapnya dengan pandangan kosong. Kawannya yang mendengar dengan khitmat hanya berseloroh,"Kadang masalah itu ada pada diri kita sendiri yang teralu menginginkan banyak hal."
"Cobalah berpikir sederhana," kata si kawan. "Orang seperti kita, terlalu tinggi menggambar kehidupan, padahal belum tentu kita melakukan hal kecil yang bermanfaat untuk orang di sekitar kita," lanjutnya.
Si gadis masih terdiam. Sepertinya ia masih menahan sesuatu. "Ceritakanlah apa yang kau pendam," ujar teman si gadis menantang halus. "Aku bukan punya jawabannya, hanya saja kau perlu didengar."
Sang gadis tersenyum kecut. Tak lama ia merasa haus. "Minum yuk," katanya. Kawannya tak menolak, diajaknya temannya itu ke warung depan kantor.
Di warung itu, kawan si gadis mulai berceramah. "Kamu terlalu banyak mengikuti gaya hidup orang banyak, dan kamu larut. Cobalah bersikap lain, bukan untuk memperbaiki, tapi setidaknya kita tidak merusak Jakarta meski ia tak pernah baik kepada orang seperti kita," tuturnya berhati-hati. Si gadis sepertinya tersihir, dan diam.
"Cobalah kau lanjutkan dengan meminta petunjuk, kamu masih seorang muslimah taat, kamu masih tak lupa dengan tahajud dan puasa. Jangan terlalu mengagungkan pikiranmu. Lembutkan hatimu," celoteh sang kawan. Si gadis yang terdiam sedari tadi tak kuat membendung matanya yang terus menguncup. Lantas ia tertidur.
"Bangun, pulang yuk, aku antar ke kosmu," ujar sang kawan. Si gadis terbangun, ia tak menampik diajak pulang. Kawannya memilihnya mengantar naik taksi. Di dalam taksi, si gadis seperti bersemangat kembali melanjutkan obrolan. "Kamu sepertinya tidak punya masalah," tanyanya. Kawannya tersenyum sinis sembari memandang ke arah luar. "Kamu tidak tahu aja, setiap orang punya masalah," lirihnya.
"Hanya saja, kamu yang sepertinya harus banyak didengarkan," lanjutnya. "Iya deh, kapan-kapan," jawab si gadis. "Terima kasih ya, setidaknya bebanku berkurang dengan obrolan ini," gumamnya menghibur.
Taksi yang ditumpanginya terus melaju lalu berhenti di balik gedung-gedung tinggi menjulang. Suasana sepi, hanya beberapa pemuda terlihat bergurau. Si gadis keluar dari Taksi, ia menunjuk salah satu rumah di suatu lorong yang merupakan tempat pondokannya. "Terimakasih, aku pasti melanjutkan hari ku besok, tenang saja," ujarnya seraya berjanji. Kawannya hanya tersenyum, ia lalu menutup pintu taksi melanjutkan perjalanan.
Satu Malam Di Batavia